Kamis, 03 Juni 2010

MENGENAL DRAINASE

Pendahuluan

Drainase berasal dari bahasa Inggris “drainage” yang mempunyai arti mengalirkan, menguras, membuang, atau mengalihkan air. Secara umum, sistem drainase dapat didefinisikan sebagai serangkaian bangunan air yang berfungsi untuk mengurangi dan/atau membuang kelebihan air dari suatu kawasan atau lahan, sehingga lahan dapat difungsikan secara optimal. Bangunan sistem drainase terdiri dari saluran penerima (interceptor drain), saluran pengumpul (collector drain), saluran pembawa (conveyor drain), saluran induk (main drain), dan badan air penerima (receiving waters). Di sepanjang sistem sering dijumpai bangunan lainnya seperti gorong-gorong, siphon, jembatan air (aquaduct), pelimpah, pintu-pintu air, bangunan terjun, kolam tando, dan stasiun pompa.
Sejarah Perkembangan Drainase Perkotaan
Manusia sudah mulai memikirkan tentang sistem pembuangan limpasan air hujan sejak jaman Romawi kuno. Bangunan drainase perkotaan pertama kali dibuat di Romawi berupa saluran bawah tanah yang cukup besar, yang digunakan untuk menampung dan membuang limpasan air hujan. Pada awalnya, sistem drainase dibangun hanya untuk menerima limpasan air hujan dan membuangnya ke badan air terdekat. Desain dan pembangunannya belum dilakukan dengan baik. Saluran bawah tanah yang terbuat dari batu dan bata mengalami rembesan yang cukup besar, sehingga kapasitasnya jauh berkurang. Pada beberapa kasus, saluran tidak mempunyai kemiringan yang cukup, sehingga air tidak lancar (stagnant) dan terjadi genangan dalam saluran setelah terjadi hujan.
Air buangan dapat merupakan salah satu sumber utama yang dapat mengakibatkan pencemaran. Oleh karena itu sebagai tindakan pencegahan harus dilakukan pengelolaan terhadap air buangan. Pengolahan tersebut meliputi:
·         Collection System, yaitu cara pengumpulan/pengalirannya
·         Treatment System, yaitu cara pengolahannya
·         Final Disposal System yaitu cara pembuangan akhirnya.
Tujuan dibangunnya prasarana saluran drainase perkotaan seperti halnya tujuan penataan lingkungan, diantaranya sbb:
·         Menjamin kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.
·         Melindungi alam lingkungan seperti tanah, kualitas udara dan kualitas air (PROKASIH)
·         Menghindarkan bahaya, kerusakan materiil, kerugian dan beban-beban lain yang disebabkan oleh amukan limpasan banjir
·         Memperbaiki kualitas lingkungan
·         Konservasi sumber daya air.
Analisis hidrologi:
Analisis hidrologi dari daerah perencanaan yang meliputi analisis curah hujan harian maksimum dan pembuatan kurva intensitas durasi hujan merupakan langkah awal yang perlu dilakukan dalam perencanaan saluran drainase. Dengan melakukan analisis hidrologi, debit banjir rencana yang akan digunakan sebagai dasar penentuan dimensi saluran dan perlengkapannya dapat diperkirakan. Data curah hujan yang digunakan untuk analisis hidrologi diperoleh dari stasiun pengamat curah hujan yang terdekat dari daerah perencanaan. Pengukuran curah hujan dapat dilakukan dengan alat ukur secara konvensional yang hanya dapat dilakukan dengan alat ukur otomatis dimana dari alat ini diperoleh karakteristik setiap durasi hujan. Secara garis besar analisis curah hujan yang dilakukan meliputi:
·         Penyiapan data curah hujan
·         Tes konsistensi
·         Tes homogenitas
·         Analisis frekuensi curah hujan
·         Analisis intensitas curah hujan
Analisis Frekuensi:
Analisis curah hujan harian maksimum yang akan terjadi selama periode ulang tertentu dapat diperkirakan dengan berbagai macam metode, antara lain metode Gumbel , metode Log Pearson Type III dan metode iwai Kadoya. Dasar pemakaian ketiga metode ini dalam menganalsis besarnya curah hujan harian maksimum mengingat metoda tersebut cocok dipergunakan untuk harga-harga ekstrim.
Pemilihan metoda perhitungan curah huajn maksimum dimaksudkan untuk memilih metoda yang paling sesuai dalam memperkirakan besarnya curah hujan harian maksimum yang terjadi dalam periode ulang hujan tertentu.
Analisis Intensitas Curah Hujan:
Hasil akhir dari analisis curah hujan yang dilakukan adalah mendapatkan intensity duration curve, yaitu suatu kurva yang menunjukkan hubungan antara lamanya waktu pengaliran dengan intensitas hujan. Untuk mengolah data curah hujan menjadi intensitas curah hujan yang terjadi. Apabila tidak dijumpai data untuk setiap durasi hujan yang terjadi. Apabila tidak dijumpai data untuk setiap durasi hujan maka diperlukan pendekatan secara empiris dengan berpedoman kepada durasi 60 menit (1 jam) dan pada curah hujan harian maksimum yang terjadi setiap tahun. Cara lain yang lazim dipakai adalah dengan mempunyai kondisi yang hampir sama. Metode yang dapat digunakan antara lain metode Bell, Van Breen dan Hasper dan Der Weduwen.
Konsep Drainase Kampus Kwala Bekala:
Drainase yang perlu disediakan pada kampus    adalah sebagai berikut:
1.     Sistem Pembuangan air hujan
Prinsip pembuangan air hujan :
a.     Sistem saluran adalah tertutup, yang pada beberapa ruas tutupnya dapat dibuka
b.    Sistem drainage dibuat sependek mungkin, dengan tujuan pengaliran adalah daerah danau
c.     Seminimal mungkin berpotongan dengan sistem air limbah dan jaringan utilitas
d.    Seluruh drainge jalan yang berada di sepanjang koridor luar areal Kampus Kwala Bekala dialirkan juga melalui culvert menuju sistem drainage yang terdapat di dalam kampus.
2.     Sistem Air Limbah
1.     Saluran yang ada merupakan saluran tertutup
2.     Kedalaman saluran ini saat percabangan dengan saluran drainage air hujan adalah dibagian bawah
3.     Pada jarak-jarak tertentu dibuat manhole sebagai tempat pemeliharaan saluran tersebut.
4.     Terminal akhir dari buangan air limbah adalah instalasi IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah), dimana hasil akhir berupa sampah akan dibuang sedangkan air yang telah diolah dapat dimasukkan ke dalam danau.
Sampai saat ini kota-kota di Indonesia masih menggunakan sistem drainase tercampur tanpa dilengkapi dengan fasilitas instalasi pengolah air limbah (IPAL). Hal ini tentu saja mengkhawatirkan untuk masa mendatang mengingat air limbah yang dibuang ke sistem drainase makin meningkat volumenya dengan kualitas yang makin menurun.
sumber: Sistem Drainase Perkotaan yang Berkelanjutan oleh D. Ir. Suripin, M.Eng
sumber:digilib-ampl.net

Biota Tanah

Untuk menjawab pertanyaan ini, fotografer David Liittschwager mengambil rangka logam hijau, berupa kubus bersisi 12 inci, yang ditempatkannya di lingkungan yang berbeda-beda—daratan dan perairan, tropis dan sedang. Di setiap tempat itu, dia memasang kubus dan mulai mengawasi, menghitung, dan memotret dengan bantuan asistennya dan banyak biolog. Sasarannya: mendokumentasikan dan memotret makhluk yang tinggal atau melewati ruang itu. Tim itu kemudian menyortir isi habitat kubusnya, mendaftar semua penduduknya, hingga yang berukuran sekitar satu milimeter. Untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut, rata-rata perlu waktu tiga minggu di setiap tempat. Secara keseluruhan, terdapat lebih dari seribu individu organisme yang difoto, dimana keragamannya terlihat dalam kelompok-kelompok di beberapa halaman ini. “Seperti menemukan permata-permata kecil,” ujar Liittschwager.
Saat menghunjamkan sekop ke dalam tanah atau mematahkan sepotong karang, kita membelah dunia laksana dewa. Kita melintasi perbatasan tersembunyi yang jarang sekali diketahui manusia. Tak jauh dari jangkauan, di sekeliling dan di bawah kaki kita, di situlah terletak bagian permukaan bumi yang paling tidak terjelajahi. Bagian yang sejatinya merupakan tempat terpenting di Bumi bagi kehidupan manusia.
Di setiap habitat, baik itu di tanah, tajuk hutan, atau air, yang pertama ditangkap mata kita adalah binatang besar—burung, mamalia, ikan, kupu-kupu. Tetapi berangsur-angsur, penghuni yang lebih kecil, dengan jumlah yang jauh lebih banyak, mulai mendominasi habitat. Ada banyak serangga yang merayap dan berdengung di antara rumput liar, cacing dan makhluk tak bernama yang merayap atau bergegas berlindung saat kita membalik tanah kebun untuk ditanami. Begitu pula akan kita dapati kawanan semut pengganggu yang keluar ketika sarang mereka dibelah terbuka secara tak sengaja dan tempayak kumbang perusak yang bercokol di akar rumput menguning. Ketika kita membalik batu, lebih banyak lagi yang terlihat: laba-laba kecil dan berbagai makhluk pucat tak dikenal yang bermacam-macam bentuknya menyelinap di antara untaian jamur. Kumbang kecil bersembunyi dari cahaya yang tiba-tiba, sementara mengkulum (serangga berbentuk menyerupai armadilo) kecil secara defensif melingkarkan tubuhnya seperti bola. Tak ketinggalan kelabang dan kaki seribu, hingga ular mini yang mengingatkan pada Robocop, menyelip memasuki celah dan lubang cacing terdekat.
Mungkin tampaknya semua makhluk menjijikkan itu, dan miniatur alam yang didiaminya, tidak berkaitan dengan urusan manusia. Tetapi, para ilmuwan menemukan kebalikannya. Bersama bakteri dan mikroorganisme tak kasatmata lainnya yang berenang dan menetap di antara bulir-bulir mineral tanah, penghuni tanah ini sangat penting bagi kehidupan di Bumi.
Medan yang ditempatinya bukanlah sekadar campuran tanah dan kotoran. Bisa dikatakan seluruh habitat tanah itu hidup berkat keberadaan makhluk-makhluk hidup itu yang membuat hampir semua zat bisa mengalir di antara butiran tanah yang lembam.
Jika semua organisme itu menghilang dari salah satu ruang kubik yang digambarkan dalam foto-foto ini, lingkungan di dalamnya akan segera berubah secara dramatis. Molekul di tanah atau dasar sungai akan menjadi lebih kecil dan sederhana. Rasio oksigen, karbon dioksida, dan gas lainnya di udara akan berubah. Secara keseluruhan, sebuah keseimbangan fisik baru akan tercipta, yang mana menjadikan dunia dalam satu kaki kubik itu akan menyerupai lingkungan di sebuah planet yang steril nan jauh.
Bumi merupakan satu-satunya planet yang diketahui memiliki biosfer. Lapisan membran kehidupan yang tipis inilah satu-satunya rumah kita. Hanya lapisan ini yang mampu mempertahankan lingkungan yang kita perlukan untuk bertahan hidup.
Sebagian besar organisme di biosfer, dan sejumlah besar spesiesnya, berada di permukaan tanah atau tepat di bawahnya. Siklus reaksi kimia yang menjadi landasan semua kehidupan di bumi ini terjadi melalui tubuh mereka. Dengan ketelitian yang tak dapat disaingi teknologi kita, beberapa spesies menguraikan tumbuhan mati dan zat hewani yang jatuh ke tanah. Predator khusus dan sejumlah parasit memangsa hewan tersebut, dan pada gilirannya dimangsa oleh hewan yang lebih tinggi. Seluruh ekosistem, bekerja sama dalam siklus kelahiran dan kematian, mengembalikan unsur hara ke tanaman yang memerlukannya untuk melangsungkan fotosintesis. Tanpa kelancaran kerja semua mata rantai ini, biosfer akan punah.
Karenanya, kita memerlukan semua biomassa dan keanekaragaman hayati ini, termasuk semua hewan merayap-melata. Namun, meskipun memiliki peran penting, kehidupan di permukaan tanah relatif tidak diketahui, bahkan di kalangan ilmuwan sekalipun. Misalnya, ada sekitar 60.000 spesies jamur yang telah ditemukan dan dipelajari, termasuk jamur, jamur karat, dan cendawan, tetapi para ahli memperkirakan bahwa sebenarnya ada lebih dari 1,5 juta spesies jamur di Bumi. Selain itu, tanah juga dipenuhi salah satu jenis hewan yang paling banyak di dunia, nematoda, yang juga dikenal sebagai cacing gelang. Termasuk di antaranya cacing kecil putih yang nyaris tak terlihat, yang dapat ditemukan di mana-mana tak jauh di dalam tanah. Tak ketinggalan puluhan ribu spesies cacing gelang yang telah diketahui jenisnya,  sementara jumlah seluruhnya dapat mencapai jutaan. Baik jamur maupun cacing gelang kalah telak oleh organisme yang lebih kecil. Dalam sejumput tanah kebun sekitar satu gram, hidup jutaan bakteri yang terdiri atas beberapa ribu spesies. Sebagian besar masih belum diketahui manusia.
Semut, yang jumlah spesiesnya di dunia lebih dari 12.000 (dan kelompok sejenisnya yang menjadi bidang spesialisasi saya), termasuk serangga yang lebih banyak dipelajari. Namun, diperkirakan bahwa jumlah sebenarnya bisa mencapai dua atau bahkan tiga kali lipat itu. Pada 2003 saya menyelesaikan penelitian tentang “semut berkepala besar” di Belahan Bumi Barat, yaitu genus (jenis) Pheidole yang diketahui memiliki jumlah spesies terbanyak dan merupakan salah satu semut yang paling banyak jumlahnya di dunia. Pada akhir penelitian, setelah upaya 18 tahun yang terputus-putus, saya berhasil mengenali 624 spesies. Sebagian besarnya, 337, baru ditemukan.
Hanya sekitar sepuluh di antara spesies itu telah diteliti dengan seksama. Saya menemukan bahwa salah satu spesies terkecil semut tersebut makan tungau oribatida, yang biasanya berukuran jauh lebih kecil daripada huruf o pada halaman ini dan menyerupai persilangan laba-laba dan kura-kura. Untuk ukuran mereka, oribatida merupakan salah makhluk terbanyak di dalam tanah. Satu kaki kubik mungkin berisi ribuan individu. Namun, saya menemukan bahwa keragaman dan kebiasaannya banyak yang tak diketahui, jauh lebih banyak daripada semut.
Kehidupan di permukaan tanah bukan hanya campuran acak spesies, bukan hanya tebaran jamur, bakteri, cacing, semut, dan makhluk lain. Spesies dalam setiap kelompok hanya ada di kedalaman tanah tertentu. Dilihat dari atas permukaan ke bawah, kondisi lingkungan mikro berubah secara bertahap namun dramatis. Seinci demi seinci terjadi perubahan cahaya dan suhu, jarak antara partikel, kimia udara, tanah, atau air, jenis makanan yang tersedia, dan spesies organisme. Kombinasi sifat-sifat ini, hingga tingkat mikroskopis, menentukan ekosistem permukaan. Setiap spesies memiliki kemampuan khusus untuk hidup dan berkembang biak dengan baik di ceruknya masing-masing.
Penelitian tanah, dan khususnya biologi permukaan tanah, telah berkembang pesat menjadi cabang utama ilmu pengetahuan. Kini bakteri dan bentuk kehidupan mikroskopis lain dapat diidentifikasi secara cepat dengan meneliti DNA-nya. Semakin banyak siklus hidup serangga dan hewan invertebrata lain, yang sebagian besar belum diketahui manusia, kini dieksplorasi di lapangan dan laboratorium. Kebutuhan fisik dan gizinya kini semakin jelas, spesies demi spesies. Perhatian terhadap keberadaan makhluk-makhluk kecil ini bisa dilihat di The Encyclopedia of Life, tersedia di satu alamat (eol.org), yang mengumpulkan semua informasi yang telah diketahui tentang setiap spesies dan menyediakannya secara gratis bagi seluruh dunia.
Sebuah dunia kecil menunggu dieksplorasi. Saat flora dan fauna permukaan tanah diperiksa dengan lebih teliti, mekanisme kehidupan yang saling terkait akan semakin tampak perinciannya yang mengejutkan. Pada waktunya nanti, kita akan menghargai sepenuhnya ekosistem kecil menakjubkan yang menjadi tanggung jawab kita.
Oleh Edward O. Wilson
Foto oleh David Littschwager
sumber:nationalgeographic.co.id

Rabu, 19 Mei 2010

BUDIDAYA JAGUNG MANIS

Tanaman jagung (Zea mays L.) berasal dari benua Amerika. Menurut Linnaeus dalam Warisno (1998), klasifikasi tanaman jagung adalah sebagai berikut:
Divisio           : Spermathophyta
Subdivisio      : Angiospermae
Kelas             : Monocotyledonena
Ordo              : Graminae
Famili            : Graminaceae
Subfamilia     : Ponicoidae
Genus            : Zea
Species          : Zea mays L.
Bunga pada tanaman jagung terdiri dari bunga jantan dan bunga betina yang letaknya terpisah, sedangkan bunga betina terdapat pada tongkol jagung. Biji jagung tersusun dalam janggel adalah tongkol yang dibentuk pada bunga betina setelah terjadi pembuahan terjadi perkembangan biji 7 hari sampai 10 hari, yang pertama perkembangannya lambat.
Suhu yang dikehendaki tanaman jagung berkisar antara 21ºC – 30ºC. Akan tetapi untuk pertumbuhan yang baik tanaman jagung khususnya jagung hibrida suhu yang optimal adalah  23ºC – 27ºC. Suhu sekitar 25ºC akan mengakibatkan perkecambahan biji jagung lebih cepat dan suhu tinggi lebih dari 40ºC akan mengakibatkan kerusakan embrio sehingga tanaman tidak jadi berkecambah.
Kondisi pH yang baik untuk pertumbuhan jagung hibrida berkisar antara 5,5 – 7,0 dan pH optimal 6,8 terutama pada saat berbunga dan pengisian biji. Curah hujan yang normal untuk pertumbuhan tanaman jagung yang ideal adalah sekitar 250 mm/tahun sampai 2000 mm/tahun. Jagung hibrida akan tumbuh dengan baik di daerah yang ketinggiannya lebih dari 5000 m di atas permukaan laut. (Supapto, 1999).
Tanaman jagung sangat bermanfaat  bagi kehidupan manusia ataupun hewan, jagung merupakan makanan pokok kedua setelah padi, produksi jagung kini dapat dikonsumsi oleh manusia dalam bentuk penyajian, jagung merupakan salah satu bahan makanan yang mengandung hidrat arang, yang dapat digunakan untuk menggantikan (mensubtitusi) beras.
Jagung termasuk tanaman akar serabut yang terdiri dari tipe akar yaitu akar dan seminal, akar adventif dan akar udara, seminal tumbuh dari radikma dan embiro. Akar adventif disebut juga akar tunjang. Akar ini dari buku paling bawah. Sekitar 4 cm di bawah permukaan tanah. Akar udara adalah akar yang keluar dari dua atau lebih dari buku terbawah dekat permukaan tanah.
Batang jagun­g tidak bercabang, berbentuk silinder. Pada buku ruas akan muncul tunas yang berkembang menjadi tongkol. Tinggi jagung tergantung variates, umumnya berkisar 100 – 300 cm. Daun jagung memanjang dan keluar dari buku-buku batang. Jumlah daun terdiri dari 8-48 helaian tergantung varietasnya. Antara kelopak dan helaian terdapat lidah daun yang disebut Ligula, fungsi Ligula adalah mencegah air masuk ke dalam kelopak daun dan batang.
Terdapat banyak jenis jagung, seperti:
1  Jagung gigi kuda ( Zea  Mays Indentata )
2  Jagung mutiara ( Zea Mays Indurata )
3. Jagung manis ( Zea Mays Saccharata )
4. Jagung berondong ( Zea Mays Everta)
5. Jagung tepung ( Zea Mays Amylaceae )
6. Jagung polong ( Zea Mays Tunicata )
7. Jagung ketan ( Zea Mays ceratina )
Pada proses tumbuh tanaman jagung dibedakan dalam dua stadia yaitu:
a.   Stadia  vegetatif
Pada stadia vegetatif ini melalui fase kecambah, dilanjutkan dengan fase pertumbuhan vegetatif, akar batang  daun yang cepat pada akhirnya pertumbuhan vegetatif menjadi lambat sehingga dinamainya stadia generatif
b.       Stadia generatif
Pada stadia ini dinamai dengan pembentukan primordia. Proses pembungaan yang mencakup peristiwa  penyerbukan dan pembuahan. Penyerbukan yang terjadi pada tanaman jagung biasanya dibantu dengan angin, yaitu dengan cara menebarkan tepung sari kemudian menjatuhkan pada tangkai. Letak  bunga jantan dan betina tidak berada di satu tempat. Bunga jantan pada ujung batang yang sedang berbunga, sedangkan bunga betina berada di pertengahan batang atau tongkol. Perlu dijaga kemurnian biji dari varietas yang dibudidayakan dan juga terjadinya penyerbukan silang pada tanaman jagung. Proses penyerbukan, tepung sari tidak harus menempel pada kepala putik. Karena tangkai putik dapat menyebabkan proses penyerbukan tetap berlangsung. Tangkai putik berupa rambut jagung bila ditempel tepung sari. Perkembangan dan pertumbuhan serbuk sari berlanjut. Proses pertumbuhan merupakan kelanjutan peristiwa penyerbukan dapat berlangsung selama serbuk sari menempel pada putik. Kemudian saluran-saluran tangkai putik bertemu sel telur
Syarat Tumbuh
Curah hujan yang terjadi selama bulan penanaman cukup tinggi sebesar 309 mm dan 501 mm (rata-rata 427 mm/bulan),  nilai curah hujan yang cukup tinggi apabila dibandingkan dengan distribusi hujan yang ideal bagi pertumbuhan jagung yaitu 200 mm/bln (Sutoro et al., 1988) dan berpotensi menyebabkan pencucian pada unsur hara yang terdapat di tanah.
Dalam suatu langkah budidaya ada hal-hal yang perlu diperhatikan diantaranya syarat tumbuh, adapun syarat tumbuh tanaman jagung yaitu ketinggian 5-1.200 m dpl, kelembaban 80%, pH 2,3 dan suhu 15 – 20oC.
Teknik Budidaya

1.       BenihPeranan benih sangat vital sebelum memulai budidaya. Benih juga merupakan biji tanaman jagung yang tumbuh menjadi tanaman muda. Tanaman muda tersebut menjadi tanaman dewasa yang dapat menghasilkan bunga dan berbuah. Mutu benih yang bersifat kualitas memegang peranan penting dan peningkatan produksi, mutu benih meliputi mutu fisik, genetik fisiologis benih. Beberapa benih jagung manis yang sudah beredar diantaranya Sweet boy merupakan hibrida, Super Sweet inbrida dari produsen terkenal Cap Kapal Terbang dan lain-lain.
2.       Persiapan Lahan
Pengolahan tanah bertujuan untuk memperbaiki kondisi tanah menjadi gembur, sehingga pertumbuhan akar tanaman maksimal. Pengolahan tanah juga akan memperbaiki tekstur tanah. Adapun tahapan dari pengolahan tanaman jagung manis, yaitu:
a.  Membuat bedengan dengan lebar 1 m , jarak bedengan 30 m dan panjangnya sesuai dengan lahan.
b.  Penggemburan ketanah  dengan kedalaman 30 – 40 cm
3.   Pemupukan Organik dan Non Organik
Pemberian pupuk kandang diberikan sebelum pemasangan mulsa dan diratakan di atas tanah bedengan. Pemberian pupuk Organik SP 36, ZA, Kcl dengan perbandingan 1:1:½ berfungsi untuk penyanter tanaman vegetatif, cara pemupukan dengan meratakan di atas bedengan dengan jarak per 1 m dan diberikan 100 g.
4.   Pemasangan Mulsa
Mulsa adalah plastik untuk bedengan, ada 2 warna yang berwarna perak berada di atas, sedangkan warna hitam di bawah.
Fungsi mulsa:
1         Untuk menekan tumbuhnya gulma
2         Menahan/menjaga kelembaban
3         Mencegah/mengurangi penguapan air
4         Menghemat biaya tenaga kerja dalam penyiangan
5         Memblokir pantulan untuk mengusir hama
6         Fotosintesis lewat pantulan sinar matahari
5.   Pembuatan Lubang Tanaman
Pembuatan lubang Komoditas untuk tanaman jagung, jarak tanaman 40 – 30 cm., dengan bedengan yang sudah ditutupi dengan mulsa, yang sudah dilubangi. Setelah itu dilakukan penunggalan sedalam 2 – 3 cm.
6.    Penanaman
Penanaman di lapangan dilakukan dengan menggunakan benih bukan biji. Sebelum penanaman benih kita semai terlebih dahulu, dengan cara:
-  Biji disimpan ke pot dengan media: pupuk kandang, arang sekam, selama 7 hari;
-  Beri pupuk organik;
-  Setelah tumbuh 3 – 5 daun, siap ke lahan.
Penanaman dilakukan pada lubang yang sudah diberi pupuk dengan kedalaman lubang 3 cm dengan jumlah bibit  per lubang tanam sebanyak 2 bibit kemudian ditutup dengan tanah. Jarak tanam yang digunakan adalah 75 cm x 25 cm.
7.      Penyiraman
Penyiraman dilakukan pada pagi dan sore hari yang bertujuan mencegah tanaman layu. Apabila musim kemarau penyiraman dilakukan setiap hari.
8.       Penyiangan
Penyiangan dilakukan untuk mengendalikan gulma di sekitar tanaman yang dilakukan sebanyak 3 kali. Penyiangan pertama dilakukan pada umur 21 hst dengan cara mencabut gulma. Penyiangan ke 2 dilakukan umur 42 hst dengan menggunakan kored. Yang dimaksud penyiangan adalah membrantas atau membuang gulma bagi tanaman yang dibudidayakan. Akibatnya daun menjadi berimbang, cara pengendalian yaitu dengan mencabut rumput-rumput yang tumbuh di sekitar tanaman guna mengatasi persaingan unsur hara pada tanaman.
9     Penjarangan dan Penyulaman
Penjarangan dilakukan 7 hst dengan cara meninggalkan satu tanaman yang pertumbuhannya baik. Sedangkan penyulaman dilakukan apabila tanaman pada lubang tanam tidak ada yang tumbuh atau mati.
10.    Pembumbunan
Pembumbunan dimaksudkan untuk memperkokoh berdirinya tanaman dan mendekatkan unsur hara. Pembumbunan dilakukan secara bersamaan dengan penyiangan ke 2 yaitu pada umur 42 HST.
11.    Pengendalian Hama dan Penyakit
Untuk mencegah serangan hama pada awalnya pertumbuhan dan tanaman diberikan insektisida Furadan 3G pada saat tanam sebanyak 20 kg/ha (9 gr/petak) yang di berikan pada lubang tanam. Pengendalian hama selanjutnya dengan menyemprotkan insektisida decis 2,5 EC dengan konsentrasi 2 ml/liter, larutan yang diberikan pada umur 20 hst, 27 hst dan 33 hst.
Adapun penyakit yang menyerang yaitu:
?       Bulai
Penyakit ini terkenal bagi tanaman jagung disebabkan oleh cendawa yang   merajalela, tanaman yang terserang cenderung mengalami kematian. Penyakit ini di takuti para petani. Cara pengendaliannya; tanaman di cabut jika terserang lalu dimusnahkan atau disemprot dengan fungisida.
?       Bercak Daun.
Penyakit ini ditemukan di daerah lembab, yang disebabkan oleh Cendawan
Cara pengendaliannya; mengatur kelembaban lahan agar tidak lembab, atau dengan cara menyemprotkan Pestisida.
?       Karat.
Tanaman ini tumbuh di tanaman yang sudah tua, Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Pucunia songin. Akibatnya: bijinya tidak sempurna. Proses pembuahan tidak terbentuk. Cara pengendalian: melakukan sanitasi pada areal penanaman jagung, mencabut tanaman jika terserang, menyemprotkan fungisida pestisida.
12.   Pemanenan
Pemanenan dilakukan pada saat tanaman berumur 60 hst yang ditandai dengan kelobot sudah bewarna kuning, bijinya sudah cukup keras dan mengkilap, apabila ditusuk dengan kedua ibu jari biji tersebut tidak berbekas, kadar air biji sekitar 25% – 30%

Jumat, 14 Mei 2010

Mengenal GAMBUT Terkini





SEAKAN melengkapi berbagai predikat tidak sedap yang telah disandang sebelumnya, Indonesia kini menyandang predikat baru di bidang lingkungan, yakni sebagai salah-satu negara kontributor utama pemanasan global. Mengutip laporan yang disampaikan oleh Sir Nicholas Stern, Kepala Ekonomi dan Penasihat Pemerintah Inggris untuk Urusan Efek Ekonomi Perubahan Iklim dan Pembangunan saat berkunjung ke Indonesia beberapa tahun lalu, Indonesia menduduki peringkat keempat setelah Amerika Serikat, Uni Eropa dan China dalam memberikan kontribusi terhadap pemanasan global. Uniknya, besarnya kontribusi Indonesia bukan karena aktivitas industrinya, tetapi lebih disebabkan oleh emisi yang terbuang dari peristiwa kebakaran hutan  yang hampir rutin terjadi di negeri ini setiap tahunnya.

Kamis, 22 April 2010

KAYU

SIFAT-SIFAT KAYU DAN PENGGUNAANNYA
Dalam kehidupan kita sehari-hari, kayu merupakan bahan yang sangat sering dipergunakan untuk tujuan penggunaan tertentu.  Terkadang sebagai barang tertentu, kayu tidak dapat digantikan dengan bahan lain karena sifat khasnya.  Kita sebagai pengguna dari kayu yang setiap jenisnya mempunyai sifat-sifat yang berbeda, perlu mengenal sifat-sifat kayu tersebut sehingga dalam pemilihan atau penentuan jenis untuk tujuan penggunaan tertentu harus betul-betul sesuai dengan yang kita inginkan.  Berikut ini diuraikan sifat-sifat kayu (fisik dan mekanik) serta macam penggunaannya.
Pengenalan Sifat-Sifat Kayu
Kayu merupakan hasil hutan yang mudah diproses untuk dijadikan barang sesuai dengan kemajuan teknologi.  Kayu memiliki beberapa sifat yang tidak dapat ditiru oleh bahan-bahan lain.  Pemilihan dan penggunaan kayu untuk suatu tujuan pemakaian, memerlukan pengetahuan tentang sifat-sifat kayu. Sifat-sifat ini penting sekali dalam industri pengolahan kayu sebab dari pengetahuan sifat tersebut tidak saja dapat dipilih jenis kayu yang tepat serta macam penggunaan yang memungkinkan, akan tetapi juga dapat dipilih kemungkinan penggantian oleh jenis kayu lainnya apabila jenis yang bersangkutan sulit didapat secara kontinyu atau terlalu mahal.
Kayu berasal dari berbagai jenis pohon yang memiliki sifat-sifat yang berbeda-beda.  Bahkan dalam satu pohon, kayu mempunyai sifat yang berbeda-beda.  Dari sekian banyak sifat-sifat kayu yang berbeda satu sama lain, ada beberapa sifat yang umum terdapat pada semua jenis kayu yaitu :
  1. Kayu tersusun dari sel-sel yang memiliki tipe bermacam-macam dan susunan dinding selnya terdiri dari senyawa kimia berupa selulosa dan hemi selulosa (karbohidrat) serta lignin (non karbohidrat).
  2. Semua kayu bersifat anisotropik, yaitu memperlihatkan sifat-sifat yang berlainan jika diuji menurut tiga arah utamanya (longitudinal, radial dan tangensial).
  3. Kayu merupakan bahan yang bersifat higroskopis, yaitu dapat menyerap atau melepaskan kadar air (kelembaban) sebagai akibat perubahan kelembaban dan suhu udara disekelilingnya.
  4. Kayu dapat diserang oleh hama dan penyakit dan dapat terbakar terutama dalam keadaan kering.
Sifat Fisik Kayu
  1. Berat dan Berat Jenis
    Berat suatu kayu tergantung dari jumlah zat kayu, rongga sel, kadar air dan zat ekstraktif didalamnya.  Berat suatu jenis kayu berbanding lurus dengan BJ-nya.  Kayu mempunyai berat jenis yang berbeda-beda, berkisar antara BJ minimum 0,2 (kayu balsa) sampai BJ 1,28 (kayu nani).  Umumnya makin tinggi BJ kayu, kayu semakin berat dan semakin kuat pula.
  2. Keawetan
    Keawetan adalah ketahanan kayu terhadap serangan dari unsur-unsur perusak kayu dari luar seperti jamur, rayap, bubuk dll. Keawetan kayu tersebut disebabkan adanya zat ekstraktif didalam kayu yang merupakan unsur racun bagi perusak kayu.  Zat ekstraktif tersebut terbentuk pada saat kayu gubal berubah menjadi kayu teras sehingga pada umumnya kayu teras lebih awet dari kayu gubal.
  3. Warna
    Kayu yang beraneka warna macamnya disebabkan oleh zat pengisi warna dalam kayu yang berbeda-beda.
  4. Tekstur
    Tekstur adalah ukuran relatif sel-sel kayu.  Berdasarkan teksturnya, kayu digolongkan kedalam kayu bertekstur halus (contoh: giam, kulim dll), kayu bertekstur sedang (contoh: jati, sonokeling dll) dan kayu bertekstur kasar (contoh: kempas, meranti dll).
  5. Arah Serat
    Arah serat adalah arah umum sel-sel kayu terhadap sumbu batang pohon.  Arah serat dapat dibedakan menjadi serat lurus, serat berpadu, serat berombak, serta terpilin dan serat diagonal (serat miring).
  6. Kesan Raba
    Kesan raba adalah kesan yang diperoleh pada saat meraba permukaan kayu (kasar, halus, licin, dingin, berminyak dll).  Kesan raba tiap jenis kayu berbeda-beda tergantung dari tekstur kayu, kadar air, kadar zat ekstraktif dalam kayu.
  7. Bau dan Rasa
    Bau dan rasa kayu mudah hilang bila kayu lama tersimpan di udara terbuka.  Beberapa jenis kayu mempunyai bau yang merangsang dan untuk menyatakan bau kayu tersebut, sering digunakan bau sesuatu benda yang umum dikenal misalnya bau bawang (kulim), bau zat penyamak (jati), bau kamper (kapur) dsb.
  8. Nilai Dekoratif
    Gambar kayu tergantung dari pola penyebaran warna, arah serat, tekstur, dan pemunculan riap-riap tumbuh dalam pola-pola tertentu.  Pola gambar ini yang membuat sesuatu jenis kayu mempunyai nilai dekoratif.
  9. Higroskopis
    Kayu mempunyai sifat dapat menyerap atau melepaskan air.  Makin lembab udara disekitarnya makin tinggi pula kelembaban kayu sampai tercapai keseimbangan dengan lingkungannya.  Dalam kondisi kelembaban kayu sama dengan kelembaban udara disekelilingnya disebut kandungan air keseimbangan (EMC = Equilibrium Moisture Content).
  10. Sifat Kayu terhadap Suara, yang terdiri dari :
    1. Sifat akustik, yaitu kemampuan untuk meneruskan suara berkaitan erat dengan elastisitas kayu.
    2. Sifat resonansi, yaitu turut bergetarnya kayu akibat adanya gelombang suara.  Kualitas nada yang dikeluarkan kayu sangat baik, sehingga kayu banyak dipakai untuk bahan pembuatan alat musik (kulintang, gitar, biola dll).
  11. Daya Hantar Panas
    Sifat daya hantar kayu sangat jelek sehingga kayu banyak digunakan untuk membuat barang-barang yang berhubungan langsung dengan sumber panas.
  12. Daya Hantar Listrik
  13. Pada umumnya kayu merupakan bahan hantar yang jelek untuk aliran listrik.  Daya hantar listrik ini dipengaruhi oleh kadar air kayu.  Pada kadar air 0 %, kayu akan menjadi bahan sekat listrik yang baik sekali, sebaliknya apabila kayu mengandung air maksimum (kayu basah), maka daya hantarnya boleh  dikatakan sama dengan daya hantar air.
Sifat Mekanik Kayu
  1. Keteguhan Tarik
    Keteguhan tarik adalah kekuatan kayu untuk menahan gaya-gaya yang berusaha menarik kayu.  Terdapat 2 (dua) macam keteguhan tarik yaitu :
    1. Keteguhan tarik sejajar arah serat dan
    2. Keteguhan tarik tegak lurus arah serat.
      Kekuatan tarik terbesar pada kayu ialah keteguhan tarik sejajar arah serat.  Kekuatan tarik tegak lurus arah serat lebih kecil daripada kekuatan tarik sejajar arah serat.
  2. Keteguhan tekan / Kompresi
    Keteguhan tekan/kompresi adalah kekuatan kayu untuk menahan muatan/beban. Terdapat 2 (dua) macam keteguhan tekan yaitu :
    1. Keteguhan tekan sejajar arah serat dan
    2. Keteguhan tekan tegak lurus arah serat.
      Pada semua kayu, keteguhan tegak lurus serat lebih kecil daripada keteguhan kompresi sejajar arah serat.
  3. Keteguhan Geser
    Keteguhan geser adalah kemampuan kayu untuk menahan gaya-gaya yang membuat suatu bagian kayu tersebut turut bergeser dari bagian lain di dekatnya.  Terdapat 3 (tiga) macam keteguhan yaitu :
    1. Keteguhan geser sejajar arah serat
    2. Keteguhan geser tegak lurus arah serat dan
    3. Keteguhan geser miring
      Keteguhan geser tegak lurus serat jauh lebih besar dari pada keteguhan geser sejajar arah serat.
  4. Keteguhan lengkung (lentur)
    Keteguhan lengkung/lentur adalah kekuatan untuk menahan gaya-gaya yang berusaha melengkungkan kayu atau untuk menahan beban mati maupun hidup selain beban pukulan.  Terdapat 2 (dua) macam keteguhan yaitu :
    1. Keteguhan lengkung statik, yaitu kekuatan kayu menahan gaya yang mengenainya secara perlahan-lahan.
    2. Keteguhan lengkung pukul, yaitu kekuatan kayu menahan gaya yang mengenainya secara mendadak.
  5. Kekakuan
    Kekakuan adalah kemampuan kayu untuk menahan perubahan bentuk atau lengkungan. Kekakuan tersebut dinyatakan dalam modulus elastisitas.
  6. Keuletan
    Keuletan adalah kemampuan kayu untuk menyerap sejumlah tenaga yang relatif besar atau tahan terhadap kejutan-kejutan atau tegangan-tegangan yang berulang-ulang yang melampaui batas proporsional serta mengakibatkan perubahan bentuk yang permanen dan kerusakan sebagian.
  7. Kekerasan
    Kekerasan adalah kemampuan kayu untuk menahan gaya yang membuat takik atau lekukan atau kikisan (abrasi). Bersama-sama dengan keuletan, kekerasan merupakan suatu ukuran tentang ketahanan terhadap pengausan kayu.
  8. Keteguhan Belah
    Keteguhan belah adalah kemampuan kayu untuk menahan gaya-gaya yang berusaha membelah kayu.  Sifat keteguhan belah yang rendah sangat baik dalam pembuatan sirap dan kayu bakar. Sebaliknya keteguhan belah yang tinggi sangat baik untuk pembuatan ukir-ukiran (patung). Pada umumnya kayu mudah dibelah sepanjang jari-jari (arah radial) dari pada arah tangensial.
    Ukuran yang dipakai untuk menjabarkan sifat-sifat keku-atan kayu atau sifat mekaniknya dinyatakan dalam kg/cm2.  Faktor-faktor yang mempengaruhi sifat mekanik kayu secara garis besar digolongkan menjadi dua kelompok :
    1. Faktor luar (eksternal): pengawetan kayu, kelembaban lingkungan, pembebanan dan cacat yang disebabkan oleh jamur atau serangga perusak kayu.
    2. Faktor dalam kayu (internal): BJ, cacat mata kayu, serat miring dsb.
Macam Penggunaan Kayu
Penggunaan kayu untuk suatu tujuan pemakaian tertentu tergantung dari sifat-sifat kayu yang bersangkutan dan persyaratan teknis yang diperlukan.  Jenis-jenis kayu yang mempunyai persyaratan untuk tujuan pemakaian tertentu antara lain dapat dikemukan sebagai berikut :
  1. Bangunan (Konstruksi)
    Persyaratan teknis : kuat, keras, berukuran besar dan mempunyai keawetan alam yang tinggi.
    Jenis kayu : balau, bangkirai, belangeran, cengal, giam, jati, kapur, kempas, keruing, lara, rasamala.
  2. Veneer biasa
    Persyaratan teknis : kayu bulat berdiameter besar, bulat, bebas cacat dan beratnya sedang.
    Jenis kayu : meranti merah, meranti putih, nyatoh, ramin, agathis, benuang.
  3. Veneer mewah
    Persyaratan teknis : disamping syarat di atas, kayu harus bernilai dekoratif.
    Jenis kayu : jati, eboni, sonokeling, kuku, bongin, dahu, lasi, rengas, sungkai, weru, sonokembang.
  4. Perkakas (mebel)
    Persyaratan teknis : berat sedang, dimensi stabil, dekoratif, mudah dikerjakan, mudah dipaku, dibubut, disekrup, dilem dan dikerat.
    Jenis kayu : jati, eboni, kuku, mahoni, meranti, rengas, sonokeling, sonokembang, ramin.
  5. Lantai (parket)
    Persyaratan teknis : keras, daya abrasi tinggi, tahan asam, mudah dipaku dan cukup kuat.
    Jenis kayu : balau, bangkirai, belangeran, bintangur, bongin, bungur, jati, kuku.
  6. Bantalan Kereta Api
    Persyaratan teknis : kuat, keras, kaku, awet.
    Jenis kayu : balau, bangkirai, belangeran, bedaru, belangeran, bintangur, kempas, ulin.
  7. Alat Olah Raga
    Persyaratan teknis : kuat, tidak mudah patah, ringan, tekstur halus, serat halus, serat lurus dan panjang, kaku, cukup awet.
    Jenis kayu : agathis, bedaru, melur, merawan, nyatoh, salimuli, sonokeling, teraling.
  8. Alat Musik
    Persyaratan teknis : tekstur halus, berserat lurus, tidak mudah belah, daya resonansi baik.
    Jenis kayu : cempaka, merawan, nyatoh, jati, lasi, eboni.
  9. Alat Gambar
    Persyaratan teknis : ringan, tekstur halus, warna bersih.
    Jenis kayu : jelutung, melur, pulai, pinus.
  10. Tong Kayu (Gentong)
    Persyaratan teknis : tidak tembus cairan dan tidak mengeluarkan bau.
    Jenis kayu : balau, bangkirai, jati, pasang.
  11. Tiang Listrik dan Telepon
    Persyaratan teknis : kuat menahan angin, ringan, cukup kuat, bentuk lurus.
    Jenis kayu : balau, giam jati, kulim, lara, merbau, tembesu, ulin.
  12. Patung dan Ukiran Kayu
    Persyaratan teknis : serat lurus, keras, tekstur halus, liat, tidak mudah patah dan berwarna gelap.
    Jenis kayu : jati, sonokeling, salimuli, melur, cempaka, eboni.
  13. Korek Api
    Persyaratan teknis : sama dengan persyaratan veneer, cukup kuat (anak korek api), elastis dan tidak mudah pecah (kotak).
    Jenis kayu : agathis, benuang, jambu, kemiri, sengon, perupuk, pulai, terentang, pinus.
  14. Pensil
    Persyaratan teknis : BJ sedang, mudah dikerat, tidak mudah bengkok, warna agak merah, berserat lurus.
    Jenis kayu : agathis, jelutung, melur, pinus.
  15. Moulding
    Persyaratan teknis : ringan, serat lurus, tekstur halus, mudah dikerjakan, mudah dipaku. Warna terang, tanpa cacat, dekoratif.
    Jenis kayu : jelutung, pulai ramin, meranti dll.
  16. Perkapalan
    Lunas
    Persyaratan teknis : tidak mudah pecah, tahan binatang laut.
    Jenis kayu : ulin, kapur.
    Gading
    Persyaratan teknis : kuat, liat, tidak mudah pecah, tahan binatang laut.
    Jenis kayu : bangkirai, bungur, kapur.
    Senta
    Persyaratan teknis : kuat, liat, tidak mudah pecah, tahan binatang laut.
    Jenis kayu : bangkirai, bungur, kapur.
    Kulit
    Persyaratan teknis : tidak mudah pecah, kuat, liat, tahan binatang laut.
    Jenis kayu : bangkirai, bungur, meranti merah.
    Bangunan dan dudukan mesin
    Persyaratan teknis : ringan, kuat dan awet, tidak mudah pecah karena getaran mesin.
    Jenis kayu : kapur, meranti merah, medang, ulin, bangkirai.
    Pembungkus as baling-baling
    Persyaratan teknis : liat, lunak sehingga tidak merusak logam.
    Jenis kayu : nangka, bungur, sawo.
    Popor Senjata
    Persyaratan teknis : ringan, liat, kuat, keras, dimensi stabil.
    Jenis kayu : waru, salimuli, jati.
  17. Arang (bahan bakar)
    Persyaratan teknis :  BJ tinggi.
    Jenis kayu : bakau, kesambi, walikukun, cemara, gelam, gofasa, johar, kayu malas, nyirih, rasamala, puspa, simpur.

Pengenalan atas sifat-sifat fisik dan mekanik akan sangat membantu dalam menentukan jenis-jenis kayu untuk tujuan pengunaan tertentu.  Diharapkan dengan memahami sifat-sifat kayu dan jenis-jenis kayu untuk penggunaan tertentu akan semakin mengurangi ketergantungan konsumen akan suatu jenis kayu tertentu saja sehingga pemanfaatan jenis-jenis kayu yang semula belum dimanfaatkan (jenis-jenis yang belum dikenal umum) akan semakin meningkat.
 Kayu Ulin merupakan salah satunya. Pohon ulin—sebagai salah satu vegetasi asli yang dikenal sebagai kayu besi Kalimantan, saat ini semakin langka. Di Kalimantan Selatan misalnya, diperkirakan populasi ulin yang bertahan tinggal 20 persen.
Tumbuhan yang bisa mencapai tinggi 35 meter itu semakin sulit didapatkan di hutan. Pohon ulin adalah bahan baku utama untuk membuat rumah bagi warga Kalimantan yang bermukim di daerah rawa dan perairan.
Sudin Panjaitan, peneliti Bidang Silvikultur Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kehutanan Balai Penelitian Kehutanan Banjarbaru, Kalimantan Selatan, mengatakan, populasi ulin (Eusideroxylon zwageri) di Kalimantan, terutama Kalsel, diperkirakan tinggal 20 persen dibandingkan dengan kondisi 40 tahun lalu.
”Penebangan kayu ulin secara tak terkendali mempercepat kepunahan. Sekarang untuk mencari pohon ulin berdiameter 20 sentimeter sulit sekali. Saat pohon berdiameter 10 cm sudah ditebang orang,” ujarnya, Jumat (9/4) di Banjarbaru, Kalsel.
Menurut Sudin, populasi ulin secara keseluruhan sulit dihitung karena pohon ini tumbuh bersama pohon jenis lain sebagai pendamping, seperti meranti. Ulin termasuk pohon yang sulit berkembang di tempat terbuka.
Di Kalsel, ulin masih bisa dijumpai di beberapa tempat, antara lain di daerah Asam-asam, Kabupaten Tanahlaut, Daerah Aliran Sungai Riamkanan di Kabupaten Banjar, Kabupaten Kotabaru, dan sepanjang Pegunungan Meratus. Di satu hektar lahan biasanya hanya ditemukan belasan pohon ulin.
Ulin, menurut Sudin, adalah vegetasi yang berkembang lambat. Dalam satu tahun, diameter pohon kurang dari 1 cm. Ini berbeda dengan meranti yang bisa mencapai 1,5-2 cm. Pada usia 40 tahun diameter ulin mencapai 36 cm. Baru pada usia 100 tahun diameter ulin bisa 50 cm.
”Karena perkembangannya lambat, jarang ada masyarakat yang mengembangkan. Apalagi pemegang HPH (hak pengelolaan hutan). Mereka jarang yang mau membudidayakan, karena untuk bisa dimanfaatkan perlu waktu lama,” kata Sudin.

Sensus Laut Dokumentasikan 5.000 Mikroba


LONDON, KOMPAS.com — Sensus Kehidupan Laut yang dilakukan seluruh dunia memiliki empat fokus proyek pada hewan-hewan, seperti mikroba, plankton binatang (zooplankton), larva, dan hewan yang suka bersembunyi di dasar lautan.

Bagaimana Mengganti Hara K

Bukan hal baru lagi jika negeri kita ini mengalami kelangkaan pupuk. Petani jika sudah mulai masuk musim tanam hal yang membuat mereka takut adalah kelangkaan saprodi. Pupuk salah satunya.

Mengenal Mangga

Sering dengar tentang mangga (bukan bahasa sunda lho) tapi mengenai buah mangga. Banyak penggemar mangga. Sebenarnya di beberapa jurnal pertanian sering membahas ini.

Rabu, 03 Februari 2010

Mikroba untuk pupuk

Mungkin bukan kali ini saja ada ide untuk menggunakan mikroba sebagai pupuk. Aplikasi mikroba ini dikenal dengan pupuk hayati. Berbagai penelitian memang sedang terus dilakuka. Arah penggunaan mikroba ini sebenarnya akan sangat berdampak positif jika diarahkan kepada mulai mundurnya lahan pertanian kita akibat konversi lahan yang dari tahun ke tahun lajunya seperti sulit dihentikan. Tahun lalu contohnya mulai diarahkan pada lahan gambut. Pemanfaatan lahan di Indonesia sejak dulu telah salah arah. Lahan subur, terutama di Jawa, tak terbendung terus berubah fungsi ke nonpertanian. Sementara itu, kebutuhan pangan yang terus meningkat memaksa pemanfaatan lahan kering dan marginal yang umumnya di luar Jawa. Di sinilah rekayasa teknologi berperan untuk mengubahnya menjadi lahan subur. Salah satu yang kini gencar disasari adalah lahan gambut.

Dalam ASEAN-China Workshop on the Development of Effective Microbial Consortium Poten in Peat Modification di Jakarta, Senin (10/11), tim peneliti mikroba dari Pusat Teknologi Bioindustri BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi), yang diketuai Gatyo Angkoso, melaporkan keberhasilan mereka menyuburkan lahan gambut dengan menambahkan limbah selulosa dari perkebunan kelapa sawit dan memasukkan secara bersamaan beberapa jenis isolat mikroba tertentu.

Perlakuan ini dapat mengurangi tingkat keasaman atau menaikkan pH lahan gambut dari rata-rata 3,5 menjadi 5,5, jelas Direktur Pusat Teknologi Bioindustri, Koesnandar, yang juga terlibat dalam riset tersebut, di Rasau dan Siantan, Kalimantan Barat. Selama ini lahan gambut secara alami memang tidak subur karena memiliki keasaman tinggi atau kebasaannya (pH) rendah, antara 2,8 dan 4,5. Sifat lain lahan gambut yang tidak menguntungkan adalah nilai kapasitas tukar kation dan kandungan organik yang tinggi.

Penyuburan lahan gambut dilakukan dengan memasukkan konsorsia atau beberapa kelompok mikroba. Dijelaskan Diana Nurani, peneliti, riset yang dilakukan sejak tahun 2006 berhasil diisolasi puluhan mikroba di dua daerah di Pontianak itu. Dari puluhan ditemukan empat kelompok mikroba yang memiliki kinerja yang baik dalam meningkatkan kebasaan lahan gambut.

Ditambahkan Koesnandar, mikroba itu ditemukan di lahan gambut, pada limbah kelapa sawit, dan kotoran sapi. Dari efeknya pada tanah gambut, konsorsia mikroba itu bersimbiosa mutualisme. Penelitian lebih lanjut akan dilakukan untuk meneliti peran dan karakteristik masing- masing mikroba.

Aplikasi empat kelompok mikroba pada tanah gambut selain dapat meningkatkan pH, juga terbukti memperbaiki struktur tanah dan meningkatkan ketersediaan mineral. Keuntungan lainnya adalah mengganti cara konvensional, yaitu pembakaran yang biasa dilakukan petani di lahan gambut untuk meningkatkan pH tanah gambut.

Indonesia memiliki kawasan gambut keempat terluas di dunia, yakni 20,6 juta hektar. Peringkat pertama adalah Kanada (170 juta ha), Uni Soviet (150 juta ha), dan Amerika Serikat (40 juta ha). Lahan gambut di Indonesia terbanyak dijumpai di Sumatera (35 persen), Kalimantan (30 persen), dan Papua (30 persen).
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia berhasil mengisolasi mikroba pilihan dan memberdayakannya menjadi pupuk unggulan yang disebut beyonic. Peluncuran pupuk organik ini dilakukan di Kawasan Cibinong Science Center Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia oleh Menteri Riset dan Teknologi Suharna Surapranata, Sabtu (30/1).
Mikroba yang telah teruji itu berguna untuk mengubah lahan pertanian menjadi lebih baik.

Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI Endang Sukara mengatakan, penggunaan pupuk organik dapat mengurangi penggunaan pupuk sintetis serta pestisida dan herbisida. Keuntungan lain adalah mengurangi biaya produksi dan emisi CO dari pabrik pupuk. Pemerintah memperkirakan kebutuhan pupuk organik pada tahun 2010 mencapai sekitar 11,75 juta ton.

Beyonic adalah pupuk organik yang dipadukan dengan mikroba koleksi LIPI berupa konsorsium yang mampu mengatasi masalah pertanian setempat dan berproduktivitas tinggi.Saat ini koleksi mikroba LIPI, ujar Endang, telah mencapai sekitar 20.000 jenis, sekitar 4.000 mikroba telah teridentifikasi kemampuan unggulnya.

”Mikroba yang telah teruji itu berguna untuk mengubah lahan pertanian menjadi lebih baik,” kata Heddy Sulistyo, peneliti di Pusat Penelitian Biologi LIPI.
Teknologi beyonic diharapkan dapat mengantisipasi dampak perubahan iklim pada lahan kering dan dapat mempercepat pertumbuhan tanaman. Ditambahkan Sri Widiati, peneliti Puslit Biologi LIPI, konsorsium mikroba yang digunakan pada beyonic, antara lain, berasal dari Kawasan Penelitian Biologi LIPI di Wamena, Papua. Di Wamena, 16 mikroba unggulan untuk pengembangan pupuk organik bisa diisolasi.

Karbondioksida dan Bambu

Vegetasi bambu berdaya serap karbon dioksida tergolong paling besar, berbeda dengan jenis pohon lain karena bambu memiliki kemampuan fotosintesis efisien, yaitu menyerap kembali sebagian karbon dioksida yang dihasilkan.
Dunia tidak akan bisa menolak bambu dengan ekolabel karena bambu yang tidak dipanen atau dimanfaatkan justru akan membusuk di alam dan melepaskan emisi

Dalam pembahasan di Konferensi Perubahan Iklim PBB di Kopenhagen, Denmark, baru-baru ini, penanaman bambu diupayakan masuk dalam program Alih Guna Lahan dan Kehutanan (LULUCF), serta Reduksi Emisi dari Perusakan Hutan dan Degradasi Lahan (REDD).
”Dunia tidak akan bisa menolak bambu dengan ekolabel karena bambu yang tidak dipanen atau dimanfaatkan justru akan membusuk di alam dan melepaskan emisi,” kata Marc Peeters, salah satu penanam modal usaha pembibitan bambu satu-satunya di Indonesia dengan teknologi kultur jaringan dari Belgia, Senin (1/2/2010) di Jakarta.

Mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup Sarwono Kusumaatmadja telah menyampaikan gagasannya kepada Menteri Negara Lingkungan Hidup Gusti Muhammad Hatta untuk menghidupkan kembali Rencana Aksi Bambu Nasional. Kebijakan itu dikeluarkan Sarwono saat menjabat Menteri Lingkungan Hidup periode 1996-1997.

Peneliti bambu dari Pusat Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Hutan dan Konservasi Alam pada Badan Litbang Kehutanan di Departemen Kehutanan Sutiyono menjelaskan, fotosintesis bambu memiliki mekanisme C4, sedangkan pohon jenis lainnya C3. Artinya, fotosintesis bambu lebih efisien.

Peeters mengatakan, apresiasi dunia terhadap bambu kini meningkat, seperti di Bandara Barajas, Madrid, Spanyol, yang menggunakan bambu untuk langit-langit gedungnya.