Kamis, 03 Juni 2010

Biota Tanah

Untuk menjawab pertanyaan ini, fotografer David Liittschwager mengambil rangka logam hijau, berupa kubus bersisi 12 inci, yang ditempatkannya di lingkungan yang berbeda-beda—daratan dan perairan, tropis dan sedang. Di setiap tempat itu, dia memasang kubus dan mulai mengawasi, menghitung, dan memotret dengan bantuan asistennya dan banyak biolog. Sasarannya: mendokumentasikan dan memotret makhluk yang tinggal atau melewati ruang itu. Tim itu kemudian menyortir isi habitat kubusnya, mendaftar semua penduduknya, hingga yang berukuran sekitar satu milimeter. Untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut, rata-rata perlu waktu tiga minggu di setiap tempat. Secara keseluruhan, terdapat lebih dari seribu individu organisme yang difoto, dimana keragamannya terlihat dalam kelompok-kelompok di beberapa halaman ini. “Seperti menemukan permata-permata kecil,” ujar Liittschwager.
Saat menghunjamkan sekop ke dalam tanah atau mematahkan sepotong karang, kita membelah dunia laksana dewa. Kita melintasi perbatasan tersembunyi yang jarang sekali diketahui manusia. Tak jauh dari jangkauan, di sekeliling dan di bawah kaki kita, di situlah terletak bagian permukaan bumi yang paling tidak terjelajahi. Bagian yang sejatinya merupakan tempat terpenting di Bumi bagi kehidupan manusia.
Di setiap habitat, baik itu di tanah, tajuk hutan, atau air, yang pertama ditangkap mata kita adalah binatang besar—burung, mamalia, ikan, kupu-kupu. Tetapi berangsur-angsur, penghuni yang lebih kecil, dengan jumlah yang jauh lebih banyak, mulai mendominasi habitat. Ada banyak serangga yang merayap dan berdengung di antara rumput liar, cacing dan makhluk tak bernama yang merayap atau bergegas berlindung saat kita membalik tanah kebun untuk ditanami. Begitu pula akan kita dapati kawanan semut pengganggu yang keluar ketika sarang mereka dibelah terbuka secara tak sengaja dan tempayak kumbang perusak yang bercokol di akar rumput menguning. Ketika kita membalik batu, lebih banyak lagi yang terlihat: laba-laba kecil dan berbagai makhluk pucat tak dikenal yang bermacam-macam bentuknya menyelinap di antara untaian jamur. Kumbang kecil bersembunyi dari cahaya yang tiba-tiba, sementara mengkulum (serangga berbentuk menyerupai armadilo) kecil secara defensif melingkarkan tubuhnya seperti bola. Tak ketinggalan kelabang dan kaki seribu, hingga ular mini yang mengingatkan pada Robocop, menyelip memasuki celah dan lubang cacing terdekat.
Mungkin tampaknya semua makhluk menjijikkan itu, dan miniatur alam yang didiaminya, tidak berkaitan dengan urusan manusia. Tetapi, para ilmuwan menemukan kebalikannya. Bersama bakteri dan mikroorganisme tak kasatmata lainnya yang berenang dan menetap di antara bulir-bulir mineral tanah, penghuni tanah ini sangat penting bagi kehidupan di Bumi.
Medan yang ditempatinya bukanlah sekadar campuran tanah dan kotoran. Bisa dikatakan seluruh habitat tanah itu hidup berkat keberadaan makhluk-makhluk hidup itu yang membuat hampir semua zat bisa mengalir di antara butiran tanah yang lembam.
Jika semua organisme itu menghilang dari salah satu ruang kubik yang digambarkan dalam foto-foto ini, lingkungan di dalamnya akan segera berubah secara dramatis. Molekul di tanah atau dasar sungai akan menjadi lebih kecil dan sederhana. Rasio oksigen, karbon dioksida, dan gas lainnya di udara akan berubah. Secara keseluruhan, sebuah keseimbangan fisik baru akan tercipta, yang mana menjadikan dunia dalam satu kaki kubik itu akan menyerupai lingkungan di sebuah planet yang steril nan jauh.
Bumi merupakan satu-satunya planet yang diketahui memiliki biosfer. Lapisan membran kehidupan yang tipis inilah satu-satunya rumah kita. Hanya lapisan ini yang mampu mempertahankan lingkungan yang kita perlukan untuk bertahan hidup.
Sebagian besar organisme di biosfer, dan sejumlah besar spesiesnya, berada di permukaan tanah atau tepat di bawahnya. Siklus reaksi kimia yang menjadi landasan semua kehidupan di bumi ini terjadi melalui tubuh mereka. Dengan ketelitian yang tak dapat disaingi teknologi kita, beberapa spesies menguraikan tumbuhan mati dan zat hewani yang jatuh ke tanah. Predator khusus dan sejumlah parasit memangsa hewan tersebut, dan pada gilirannya dimangsa oleh hewan yang lebih tinggi. Seluruh ekosistem, bekerja sama dalam siklus kelahiran dan kematian, mengembalikan unsur hara ke tanaman yang memerlukannya untuk melangsungkan fotosintesis. Tanpa kelancaran kerja semua mata rantai ini, biosfer akan punah.
Karenanya, kita memerlukan semua biomassa dan keanekaragaman hayati ini, termasuk semua hewan merayap-melata. Namun, meskipun memiliki peran penting, kehidupan di permukaan tanah relatif tidak diketahui, bahkan di kalangan ilmuwan sekalipun. Misalnya, ada sekitar 60.000 spesies jamur yang telah ditemukan dan dipelajari, termasuk jamur, jamur karat, dan cendawan, tetapi para ahli memperkirakan bahwa sebenarnya ada lebih dari 1,5 juta spesies jamur di Bumi. Selain itu, tanah juga dipenuhi salah satu jenis hewan yang paling banyak di dunia, nematoda, yang juga dikenal sebagai cacing gelang. Termasuk di antaranya cacing kecil putih yang nyaris tak terlihat, yang dapat ditemukan di mana-mana tak jauh di dalam tanah. Tak ketinggalan puluhan ribu spesies cacing gelang yang telah diketahui jenisnya,  sementara jumlah seluruhnya dapat mencapai jutaan. Baik jamur maupun cacing gelang kalah telak oleh organisme yang lebih kecil. Dalam sejumput tanah kebun sekitar satu gram, hidup jutaan bakteri yang terdiri atas beberapa ribu spesies. Sebagian besar masih belum diketahui manusia.
Semut, yang jumlah spesiesnya di dunia lebih dari 12.000 (dan kelompok sejenisnya yang menjadi bidang spesialisasi saya), termasuk serangga yang lebih banyak dipelajari. Namun, diperkirakan bahwa jumlah sebenarnya bisa mencapai dua atau bahkan tiga kali lipat itu. Pada 2003 saya menyelesaikan penelitian tentang “semut berkepala besar” di Belahan Bumi Barat, yaitu genus (jenis) Pheidole yang diketahui memiliki jumlah spesies terbanyak dan merupakan salah satu semut yang paling banyak jumlahnya di dunia. Pada akhir penelitian, setelah upaya 18 tahun yang terputus-putus, saya berhasil mengenali 624 spesies. Sebagian besarnya, 337, baru ditemukan.
Hanya sekitar sepuluh di antara spesies itu telah diteliti dengan seksama. Saya menemukan bahwa salah satu spesies terkecil semut tersebut makan tungau oribatida, yang biasanya berukuran jauh lebih kecil daripada huruf o pada halaman ini dan menyerupai persilangan laba-laba dan kura-kura. Untuk ukuran mereka, oribatida merupakan salah makhluk terbanyak di dalam tanah. Satu kaki kubik mungkin berisi ribuan individu. Namun, saya menemukan bahwa keragaman dan kebiasaannya banyak yang tak diketahui, jauh lebih banyak daripada semut.
Kehidupan di permukaan tanah bukan hanya campuran acak spesies, bukan hanya tebaran jamur, bakteri, cacing, semut, dan makhluk lain. Spesies dalam setiap kelompok hanya ada di kedalaman tanah tertentu. Dilihat dari atas permukaan ke bawah, kondisi lingkungan mikro berubah secara bertahap namun dramatis. Seinci demi seinci terjadi perubahan cahaya dan suhu, jarak antara partikel, kimia udara, tanah, atau air, jenis makanan yang tersedia, dan spesies organisme. Kombinasi sifat-sifat ini, hingga tingkat mikroskopis, menentukan ekosistem permukaan. Setiap spesies memiliki kemampuan khusus untuk hidup dan berkembang biak dengan baik di ceruknya masing-masing.
Penelitian tanah, dan khususnya biologi permukaan tanah, telah berkembang pesat menjadi cabang utama ilmu pengetahuan. Kini bakteri dan bentuk kehidupan mikroskopis lain dapat diidentifikasi secara cepat dengan meneliti DNA-nya. Semakin banyak siklus hidup serangga dan hewan invertebrata lain, yang sebagian besar belum diketahui manusia, kini dieksplorasi di lapangan dan laboratorium. Kebutuhan fisik dan gizinya kini semakin jelas, spesies demi spesies. Perhatian terhadap keberadaan makhluk-makhluk kecil ini bisa dilihat di The Encyclopedia of Life, tersedia di satu alamat (eol.org), yang mengumpulkan semua informasi yang telah diketahui tentang setiap spesies dan menyediakannya secara gratis bagi seluruh dunia.
Sebuah dunia kecil menunggu dieksplorasi. Saat flora dan fauna permukaan tanah diperiksa dengan lebih teliti, mekanisme kehidupan yang saling terkait akan semakin tampak perinciannya yang mengejutkan. Pada waktunya nanti, kita akan menghargai sepenuhnya ekosistem kecil menakjubkan yang menjadi tanggung jawab kita.
Oleh Edward O. Wilson
Foto oleh David Littschwager
sumber:nationalgeographic.co.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar